Sheila Marcia Tidak Bahagia Dengan Pernikahan Karena Alami Kekerasan?

Kabar soal perpisahan Sheila Kiki Mirano makin memanas dengan berita :-$ Sheila Marcia Tidak Bahagia Dengan Pernikahan.

Desas desus soal Kekerasan dalam Rumah Tangga Sheila dan Kiki yang dibangun sejak April 2011 inipun menyebar luas… ;-(

Sheila Marcia pisah ranjang dari Kiki Mirano :-O dan memutuskan untuk hidup di Bali bersama dua anaknya, sedangkan Leticia baru-baru ini ikut tinggal bersama Anji dan Wina. (F)

Pengakuan ini (K) akhirnya menjawab tanya publik perihal perceraian Sheila dan Kiki lantaran tak ada lagi foto kebersamaan di media sosial, yang malah memperlihatkan sosok Sheila bersama banyak teman pria. :-S

Yang mengejutkan, :-O Sheila Marcia sempat berbagi foto ilustrasi KDRT, dan dalam tanya jawab dengan fans, Sheila mengisyaratkan sudah cukup dengan kekerasan yang didapatnya… 8O

Bukan hanya curhat di media sosial, :-S saat dikonfirmasi media pun, Sheila seakan ingin mengungkapkan perasaannya, :-$ namun ditahan.

“Aku nggak bahagia. Aku masih berjuang untuk anakku,” ;-(

“Kalau seorang istri sudah diperlakukan ehm… :-$ (terdiam) gimana ya aku takut ngomongnya, takut salah.”

“Pokoknya intinya seperti itu, :-S kesabaran ada batasnya,”

Enggan membongkar lebih jauh prihal prahara dalam rumahtangganya, ibu dari Leticia, Nathaniel dan Precious ini (K) hanya mengaku tak lagi bisa mempertahankan rumah tangganya.

Saking kecewanya, Sheila Marcia bahkan menyatakan :-$ tak lagi percaya dengan pernikahan….

“Aku nggak mau menjelekkan Kiki sama sekali. Aku nggak mau menceritakan kehidupan kami :-S yang seharusnya tidak dibagi kalaupun berbagi itu yang terbaik.”

“Aku selalu bilang ‘kenapa pisah? Karena nggak cocok. Sekarang kalau nggak cocok ngapain nikah?’ :-( Sebenernya sih bukan karena nggak cocok. Tapi harus saling mengerti satu sama lain.”

“Sekarang kita dua orang bukan satu orang. :-S Kalau yang satu jalan ke kiri, yang satu ke kanan percuma. Kita memang nggak sempurna,” :-(

“Malah sekarang aku agak tidak percaya dengan pernikahan,” (W)

“Aku sangat, sangat menghargai pernikahan. (I) Tapi pernikahan harus dijalani dua orang, bukan satu orang,”