Snack Bikini (Bihun Kekinian) : Logo Halal Palsu, Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Snack Bikini (Bihun Kekinian) : Logo Halal Palsu, Tanpa Tanggal Kadaluarsa :-O langsung mencuat jadi pemberitaan di berbagai media berita.

Mi Bikini Bihun Kekinian yang bergambar tubuh wanita berbaju renang dan berslogan Remas Aku :-$ dinilai telah melanggar norma kesopanan dan melecehkan perempuan.

Produk makanan ringan BIKINI alias Bihun Kekinian (I) tengah populer di dunia maya. Kemasan bergambar ilustrasi tubuh wanita mengenakan bikini two pieces 8O dengan slogan Remas Aku pun langsung menggemparkan publik.

Hingga akhirnya, pada Sabtu, 6 Agustus 2016, (I) Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung melakukan menggerebekan Rumah Produksi Mi Bikini di Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Dan berhasil mengamankan barang bukti (~) sebanyak 144 bungkus snack Bikini, kemasan snack Bikini sebanyak 3.900 lembar, bumbu 15 bungkus, bihun bahan baku 40 bungkus, peralatan produksi :-S sebanyak lima buah meliputi kompor, wajan, dan peralatan lainnya.

Saat dikonfirmasikan, (K) Kepala BBPOM Bandung Abdul Rahim, mengaku sudah melacak snack bihun ini selama 3 hari di media sosial, hingga akhirnya melakukan pengamanan pada sosok Tiwi mahasiswi 19 tahun produsen bihun. (I)

“Kami mendatangi rumah pemilik ini pada dini hari, (O) pembuatnya perempuan berinisial TW 19 tahun, ada di lokasi saat didatangi,”

“Ini anak alay yang hanya mencari sensasi saja motifnya,” :-[

"TW mengaku (K) usahanya merupakan industri rumah tangga yang dipasarkan melalui toko jual beli secara online sejak Maret 2016. Selama periode Maret - Juni, :-S TW telah memproduksi snack Bikini sebanyak 11 ribu bungkus."

“Kemasan produk ini melanggar kesusilaan. :-[ Ini tanpa izin edar, adapun dari isi masih melakukan penelitian,”

“Kalau ini PIRT dari Dinkes, yang bersangkutan harus ikut pelatihan di dinkes. :-S Tapi sebenarnya Dinkes juga enggak akan mengeluarkan izin dengan gambar seperti ini,”

Penggerebekan yang dilakukan BBPOM Bandung kala itu (I) bekerjasama dengan Satgas Srikandi untuk melakukan pendampingan pada TW.

Kepala Tim Satuan Tugas (Satgas) Anti Kejahatan Anak dan Wanita (Srikandi) Polresta Depok AKP Elly Padiansari sendiri (K) mengungkapkan bahwa yang bersangkutan tidak bermaksud menggunakan konten vulgar.

“Kami hanya minta keterangan karena gambar, :-) selanjutnya hanya mendampingi saja. Kalau BPOM ke polres, ya kami tindaklanjuti. Kalau kami dari PPA hanya menanggapi, dia produksi sendiri,”

“Tiwi mulai usaha tahun 2015. Dia mahasiswi di Bandung. (H) Sekarang pesanan rata-rata 6.000 piece, tapi kalalau ada yang pesan ya pesan, tergantung pesanan online, harga snack-nya Rp 15-20 ribu,”

“Murni usaha rumahan yang dijual online. (~) Katanya, sebelumnya untuk tugas kampus juga usahanya itu.”

“Sudah setahun produksi mi tersebut. Tapi tahun 2015 baru dijual selama dua pekan. :-S Sedangkan tahun ini sudah tiga bulan.”

“Sebenarnya dia nggak mau mendesain ke arah porno, :-) tetapi dia berpikir bahwa desain-nya unik. TW merasa itu tidak menjadi bagian pornografi,”

“Inspirasinya dari ide sendiri, karena lucu. Ngakunya khayalan sendiri agar menarik pembeli. :-S Dia tidak menyangka. Dia sih mau ganti kemasan, tapi belum tahu kapan. Dia seharusnya tidak seperti itu,”

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar pun ikut turun tangan (I) dalam kasus “Mi Bikini”.

Hal ini lantaran Tiwi menggunakan logo Halal, :-$ padahal bisa dipastikan bahwa LPPOM MUI tidak pernah mengeluarkan sertifikat halal untuk makanan bernama “Bikini” seperti yang diungkapkan (K) Sekretaris Umum MUI Jabar, Rafani Achyar.

“Sampai hari ini, :-S MUI, LPPOM tidak pernah mengeluarkan sertifikat halal untuk produk itu (Bikini),”

“Produk ini banyak pelanggaran. :-S Pertama, kemasannya berbau pornografi. Gambar serta kata-kata remas aku tidak patut dalam kemasan jelas menyalahi UU. Kedua, pencantuman logo halal. :-( Mereka memalsukan logo halal,”

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia ‘YLKI’ (I) juga ikut angkat suara.

Diwakili Tulus Abadi selaku Ketua Pengurus Harian, pihaknya menyatakan (K) makanan ringan Bikini ‘Bihun Kekinian’ adalah makanan ilegal karena tidak mempunyai kode produksi, nomor registrasi dan tanggal kadaluwarsa, :-[ serta tidak memiliki edukasi positif untuk masyarakat,

“Pihak YLKI membeli makanan ringan Bikini ‘Bihun Kekinian’ secara online (~) melalui akun Instagram dengan harga Rp. 15.000,-. Tidak hanya itu, YLKI telah menerima banyak pengaduan dari masyarakat,” (E)

“Dikemas dengan plastik bergambar wanita yang mengenakan bikini :-$ dan terdapat tulisan ‘Remas Aku’. Tapi, tidak ada kode produksi, tanggal kadaluwarsa, Nomor registrasi BPOM, informasi nilai gizi.”

“Juga terdapat logo dan kata halal, tetapi bisa dipastikan palsu :-[ karena tidak sesuai dengan logo halal dari Lembaga Pengawas Obat dan Makanan (LPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI),”

“Makanan ringan tersebut harus ditarik dari pasaran :-[ karena menggunakan merek dan gambar yang menjurus pada pornografi serta diduga tidak layak konsumsi dan ilegal,”