Taruhan Fairuz Bayar 1 Milyar Atau Galih Pakai Rok Soal Nafkah Pasca Cerai

Taruhan Fairuz Bayar 1 Milyar Atau Galih Pakai Rok Soal Nafkah Pasca Cerai :-O menggema usai Hotman Paris Hutapea ditunjuk sebagai kuasa hukum Fairuz.

Gerah dengan semua tudingan Galih Ginanjar, :-[ putri alm.A Rafiq inipun sontak berkoar perihal sang mantan.

Menunjuk pengacara Hotman Paris Hutapea selaku kuasa hukum kasus pertikaiannya dengan mantan suaminya, (I) Fairuz A Rafiq pun menggelar jumpa pers di kawasan Jakarta Selatan, Jum’at 13 Mei 2016.

Dengan berapi-api, ibu 1 anak inipun menuding Galih menebar fitnah :-[ perihal larangan bertemu anak hingga tuduhan pernikahan sirinya dengan Randa Septian. Hingga, janda kembang inipun dengan berani membuat taruhan :-O yang bayarannya biaya pernikahan Galih senilai satu Milyar rupiha.

“Atas tuduhan Galih yang bertubi-tubi, saya selalu diam dan berusaha sabar. :-$ Tapi akhirnya saya berpikir, saya punya anak, saya wanita dan punya harga diri, saya ada keluarga yang merasa terganggu sekali. :-[ Maka saya tegaskan bahwa tuduhan yang diungkapkan semuanya fitnah! Karangan!”

“Sejak cerai 23 Desember 2014, (U) tidak ada satu sen pun yang diberikan Galih kepada saya maupun anak saya. Berani taruhan. Taruhannya kalau seandainya dia memang merasa menafkahi anak saya dari cerai, maka resepsi pernikahan dia saya yang bayarin. (I) Terserah dia mau nikah di mana. Bayar biaya pernikahan 1 Milyar, berani!!”

Hotman pun lantas memberikan penegasan : (K)

“Jadi ini tantangan untuk Galih, buktikan bahwa you pernah nafkahin anak sejak cerai. (H) Kalau you bisa buktikan, mantanmu ini bersedia bayar 1 miliar. Kalau tidak bisa, Galih harus pakai rok,”

Tak tinggal diam, Galih Ginanjar langsung menggelar jumpa pers di Gondangdia, Jakarta Pusat, Sabtu (14/5). (K) Bersama Kumalasari, Galih menyebut sering ‘berbelanja’ kebutuhan sang putra,

“Saya waktu itu dapat uang, di dompet ada Rp 1 juta. Saya kasih ke mamanya, bagi dua gopek-gopek. :-S Kan cukup buat nafkah anak, misalnya sehari Rp 10 ribu, itu cukup,”

“Tanggal 9 (April) saya ultah ngerayaain di sekolah Faaz. (^) Saya beli kue, bingkisan kecil-kecilan buat anak-anak. Kata siapa saya nggak menafkahi? Itu kan bentuk menafkahi juga. Sekarang yang saya nafkahi anak saya, kan cukup, makannya berapa sih. :-) Bukannya saya harus menafkahi uang berjuta-juta untuk Fairuz, bukan. Setiap ke mal saya jajanin, saya yang bayar. Apakah itu bukan bukti menafkahi?”

“Di pengadilan tidak ada nominal, saya mengukur saja makan anak berapa, kemampuan saya bagaimana,” ;-)